Seni Pertunjukan Tradisional Teater ‘Ludruk’ Hingga Abad Kini

By | Januari 28, 2019

Kesenian Rakyat – Ludruk adalah seni pertunjukan teater dimana para pemainnya dalam
melakukan pementasan tidak menggunakan topeng. Pertunjukan ini meskipun  ditemukan sejak  tahun 30-an,  namun sampai  saat  sekarang masih sangat populer di kalangan masyarakat Sumenep. Dari segi permainan kata, mimik, gerak badan, dan riasan wajah, kesenian tradisional ludruk Sumenep banyak diilhami oleh unsur dagelan dalam pertunjukan ajhing lama.

Pemeran Teater Ludruk

Dalam setiap pertunjukannya ludruk selalu menggunakan panggung. Sementara untuk bagian dekorasi biasanya menggunakan layar atau kain yang di cat sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan cerita. Layar atau kain untuk dekorasi ini digulung pada sebuah bambu kemudian digantung diatas panggung.

Kesenian Teater Ludruk

Semua pemain dalam ludruk ini adalah kaum laki-laki, bahkan peran perempuanpun dimainkan oleh laki-laki yang didandani sebagai perempuan. Dalam satu rombongan ludruk terdiri kurang lebih 60 orang dengan rincian 16 orang sebagai pemain musik, 28 orang sebagai aktor atau pemain, 6 orang sebagai penari dan 10 orang untuk mengurus perlengkapan.

Teater Ludruk adalah pertunjukan teater musikal tanpa topeng, pada saat ini sangat populer di Daerah Sumenep. Pada mulanya Ludruk adalah nyanyian dan tarian sewaktu menumbuk padi yang kemudian dijadikan tarian keraton pada abad 14, pada saat itu bernama “RAKET”. Setelag berevolusi dan muncul di daerah Sumenep, Ludruk mengalami beberapa pergantian nama, antara lain: Pantil, Ajhing, Ludruk dan saat ini bisa disebut Ketoprak. Evolusi tersebut diperkirakan mulai sekitar abad ke 18. Pada saat itu Ludruk melakonkan adegan-adegan sehari-hari antara lain: episode perang kemerdekaan serta cerita pahlawan dalam legenda-legenda Madura dan Jawa.

Pasti pada ingin tahukan?! Berikut Videonya:


.
Ludruk adalah suatu bentuk hiburan rakyat yang dipentaskan dan ditonton terutama oleh kaum buruh. Saat ini ludruk di daerah Sumenep sudah jarang tampil, sebab tergantung order yang mereka terima. Seperti halnya ludruk “Rukun Kemala” yang diketahui oleh Ahmarudin dalam sebulan mereka mampu tampil 1-2 kali dan kebanyakan mereka tampil di daerah pelosok yang tradisionalismenya masih kental.
.

Baca juga:  Paket Wisata Full Day Gili Genting dan Gili Labak Sumenep

So, sahabat Wisata Sumenep

“Kenalilah Budayamu dan Cintailah Negerimu!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.