Pertunjukan Tradisional “Ojhung” Kesatria dari Pulau Madura

By | September 25, 2018

Budaya Sumenep – Tradisi masyarakat Indonesia memang sungguh unik. Keunikan ini justru menjadi daya tarik pariwisata dari suatu daerah. Demikian pula dengan Provinsi Jawa Timur yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang menarik wisatawan lokal maupun luar negeri. Selain objek pariwisata alam dan wisata kuliner khas, ternyata provinsi Jawa Timur juga memiliki tradisi bertarung yang telah dilakukan turun temurun dikenal dengan tradisi Ojung yang berasal dari Batuputih, Sumenep.

Ojhung merupakan sebuah pertunjukan tradisional masyarakat Madura, khususnya daerah Sumenep dan sekitarnya. Tradisi ojhung ini selalu dilakukan setiap musim kemarau panjang tiba. Biasanya diselenggarakan pada bulan September dan Oktober.

Awal mula tujuan dilakukan tradisi Ojhung ini adalah untuk mendatangkan hujan. Namun seiring berjalannya waktu Ojhung saat ini menjadi Budaya kesenian yang menarik bagi
wisatawan domestik maupun manca negara. Tidak hanya itu kesenian ini, juga di manfaatkan bagi para petarung Ojhung yang di sebut “Pangeran Ojhung” untuk ajang pamer kekuatan dan kekebalan tubuh mereka.

“Ojhung” Kesatria dari Pulau Madura
Peralatan yang digunakan dalam tradisi permainan Ojhung sekaligus berfungsi sebagai senjata adalah tongkat rotan yang digunakan sebagai alat pukul. Alat tersebut oleh masyarakat setempat disebut “Lapalo” atau “Kol-pokol”. Selain itu, pemain menggunakan pelindung kepala (Bhungkus atau Bhuko) yang terbuat dari karung Goni dan pembalut lengan kiri (Bulen atau Tangkes) yang terbuat dari karung Goni juga. Permainan diatur oleh seorang wasit yang oleh masyarakat setempat disebut “Bhubhuto”. Dalam pelaksanaannya, pertunjukan tersebut diiringi oleh orkes “Okol” yang peralatan musiknya terdiri atas alat musik tradisional berupa Ghambang dan Dhuk – dhuk.

Ada kebiasaan yang unik saat mencari lawan pada pertandingan Ojhung, di arena gelanggang 9 meter persegi itu setiap penonton dipersilahkan untuk mencari lawan sebanding, terutama tinggi dan umur. Bila sepakat bertanding, maka yang bersangkutan dipersilahkan melepas baju dan memakai peralatan untuk bertanding Ojhung.

Baca juga:  Menikmati Nasi Romi Kuliner Khas Asal Sumenep

Tata Cara Penilaian

Tidak semua orang bisa ikut serta menjadi pemain dalam tradisi Ojhung ini. Selain harus berani dan bertubuh kebal, juga kekuatan memukul dengan rotan serta seni menghindari dari pukulan lawan menjadi tolak ukur peserta Ojung. Sehingga permainan Ojhung ini sangat tidak diperbolehkan untuk anak-anak karena cukup berbahaya.

Seni pertunjukan Ojhung ini sama dengan seni bertarung lainnya yang melibatkan 2 orang petarung dengan seorang wasit. Penilayan dalam permainan Ojhung ini dinilai dari seberapa
banyak mereka memberikan pukulan kepada lawannya. Jadi, bila lebih banyak menerima pukulan apalagi tongkat rotan yang dipegangnya lepas dari tangan dianggap kalah oleh penonton. Pada pertandingan tertentu, wasit berhak menghentikan pertandingan yang menurutnya berat sebelah. Meskipun hal itu kadang dilakukan saat kedua pemain masih saling menyerang. Tidak heran, jika wasit juga mengalami luka-luka saat menengahi pertandingan. Sorak soray penontonpun pecah saat ada pemain berhasil memukul dan mengenai tubuh lawannya.

Jadi, kalau teman-teman sedang berkunjung ke Kabupaten Sumenep jangan lupa untuk menikmati seni tarung ini.

Rental Mobil | Bus Pariwisata | Biro Perjalanan | Jadwal Travel | Penginapan | Toko Oleh-Oleh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.