Terletak di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep. Disini para pengunjung bisa melihat peninggalan Pabrik Garam, arsitektur kolonial dan beberapa area pertahanan yang dibangun selama VOC dan diteruskan oleh Pemerintah Hindia Belanda selama penjajahan Sumenep. Kalianget dikembangkan menjadi kota karena lokasinya sangat strategis dan merupakan kota pelabuhan tersibuk di Selat Madura.

Berkunjung Wisata Kota Tua: Benteng VOC Kalianget

Di kota tua ini, kita bisa menemukan beberapa peninggalan sejarah yang pernah dibangun oleh Kolonial Belanda, seperti Pabrik Garam Briket Modern pertama di Indonesia, yang dibangun pada tahun 1899, lapangan tenis, kolam renang, bioskop, sampai pemukiman untuk pegawai garam. mill pada waktu itu… Kota tua ini adalah salah satu kota modern pertama yang ada di Pulau Madura yang akhirnya dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai kota karena letaknya yang sangat strategis dan merupakan bandar pelabuhan tersibuk yang ada di Selat Madura..

Tempat dan Akses Jalan Menuju Benteng VOC di Kalimo’ok.

Benteng VOC yang berada di Desa Kalimo’ok merupakan salah satu benteng yang berada di Pulau Madura. Benteng peninggalan Belanda ini terletak di Jalan By Pass, Dusun Bara’ Lorong, Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di belakang SDN Kalimo’ok I No. 17.
Benteng VOC di Kalianget

Benteng VOC Kalianget peninggalan Belanda ini tidak berada di pinggir jalan, sehingga tidak mudah untuk ditemukan bila baru pertama kali mengunjunginya. Harus tidak malu untuk bertanya berkali-kali bila ingin mengetahui keberadaan benteng tersebut. Sebagai patokannya adalah lokasi SDN Kalimo’ok I, karena untuk menuju ke benteng tersebut, di sebelah selatan sekolahan tersebut terdapat gang atau lorong yang banyak ditumbuhi rerumputan menuju pintu gerbang benteng tersebut.

Baca juga:  Menelusuri Keindahan Pantai 'Surga Tersembunyi' Pulau Gili Labak

Sejarah Benteng VOC Kalianget Sumenep

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, benteng VOC ini dibangun pada tahun 1785. Pembangunan benteng ini sebenarnya merupakan pembangunan benteng yang kedua kalinya yang dilakukan oleh Belanda di daerah Sumenep. Yang pertama, dibangun di Desa Kalianget Barat di kecamatan yang sama, akan tetapi tidak dilanjutkan karena lokasinya dirasa kurang strategis untuk pertahanan VOC. Akhirnya, benteng tersebut dijadikan sebagai gudang bagi kebutuhan perdagangan  kala itu. Bekas benteng tersebut, oleh masyarakat setempat disebut dengan Loji Kanthang atau Jikanthang.
Mengingat Kalianget dipandang oleh VOC memiliki nilai komoditas produksi garam yang bagus dan banyak Negara yang membutuhkan, maka VOC akhirnya membangun lagi sebuah benteng di lokasi yang sekarang ini. Benteng ini berdiri di atas lahan seluas 12.765 m² dengan luas bangunan sekitar 1.500 m². Dari fisik bangunan benteng yang ada, diperkirakan bahwa tinggi tembok yang mengelilingi benteng sekitar 3 meter dalam kondisi tidak terawat, ditumbuhi oleh lumut dan semak belukar. Di setiap sudut bangunan benteng yang berbentuk
area persegi panjang, dulunya membentuk empat bastion dengan lebar sekitar 5 meter.

Letak Geografis Benteng VOC Kalianget

Benteng yang berjarak 4 kilometer dari Pelabuhan Kalianget, dan 7 kilometer dari Kraton Sumenep atau 1 kilometer dari Bandar Udara Trunojoyo ini, semenjak 2003 menjadi salah satu cagar budaya di bawah pengawasan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto. Namun entah mengapa, benteng ini di dalamnya sekarang masih dimanfaatkan Dinas Peternakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai karantina hewan dan sapi perah kendati hal itu sudah berlangsung sejak belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Seandainya bangunan benteng ini dilihat dengan kecermatan dan ketelitian sejarah oleh pemangku pemerintahan daerah, sesungguhnya kawasan benteng ini bisa dijadikan kawasan wisata sejarah. Lebih-lebih, sekitar 300 meter arah benteng tersebut juga terdapat kherkof (kuburan Belanda) yang dibangun pada tahun 1933.
Sudah sepantasnyalah, para pemangku pemerintahan di Kabupaten Sumenep
saat ini merenungi apa yang pernah diucapkan oleh William Morris, seorang
penyair berkebangsaan Inggris (1834-1896):

“Bangunan-bangunan tua ini bukan
hanya milik kita; mereka milik para leluhur kita dan akan diwariskan pada anak
cucu kita, kecuali hak itu kita rampas dari mereka. Tak sepatunya kita berbuat
sesuka hati atas bangunan-bangunan ini. Kita sekadar pemegang amanat bagi
generasi yang akan datang.”

Beberapa bangunan peninggalan Belanda ini masih bisa kamu
lihat, tapi sayang keadaannya kurang terawat.